Saturday, April 14, 2012

menuju presipitasi


aku pernah berlomba dengan awan. melihat air siapa yang akan menyentuh tanah duluan. 

perlombaan ini tidak memberi penghargaan dan prestise bagi yang terlebih dahulu menyelesaikan, tapi yang paling terakhir meninggalkan. air siapa yang akan menyentuh tanah duluan: air hujan? atau air dari mataku? yang menang adalah yang terakhir menyentuh tanah. yang mampu bertahan menahan beban. 

awan telah menahan beban itu lama, mungkin lebih lama sebelum aku. sepanjang hari memang sudah panas. panas memancing evaporasi, memberi beban kondensasi pada awan. beban tersebut semakin berat bagi awan, dan awan mulai terlihat kelam. kelabu. ia tahu, sebentar lagi airnya akan jatuh. tapi ia masih menunggu. menunggu aku, saingannya, yang nun jauh di bawah sana sedang menahan beban pula.

tapi aku lebih lemah dari awan. tak seperti awan yang telah menahan bebannya sepanjang hari akibat panasnya lecutan matahari atas bumi, aku baru mendapat bebanku tiga menit yang lalu. tiga menit yang sudah cukup membuatku mendeklarasikan tantangan pada awan, adu ketahanan. tiga menit yang mengandung kecupan di pipi, yang mau tidak mau harus aku saksikan secara langsung, bagaikan menonton layar tancap. kecupan itu sekilas, hanya lima detik. sisanya adalah seratus tujuh puluh lima detik yang mana aku termenung, sementara beban semakin berat menguap di dadaku, memaksa air di mataku untuk menyentuh tanah. 

waktu berlalu, dan baik aku maupun awan masih bertahan. masing-masing dengan beban kelabu yang terasa semakin berat. awan, dengan beban yang ia tahan sepanjang hari -- dan aku, dengan beban yang kutahan selama tiga menit terakhir. seharusnya awan mendapat nilai plus, karena menahan sebegitu lamanya. karena menunggu sampai tanggal hendak berganti. sementara aku yang hanya bertahan tiga menit, dengan sombongnya menantang awan. 

tapi ini perlombaan yang ditentukan oleh air siapa yang jatuh paling terakhir. bukan beban siapa yang paling lama ditahan. titik. maka aku dan awan pun tetap bertahan, meskipun awan mulai geram. tak tahan menahan beban, ia pun menggerutu. aku bisa mendengar gerutunya, bumi bisa mendengar gerutunya. gerutu yang membuat temanku menutup telinga dan memekik kecil. temanku tidak tahu, awan sedang kesal karena harus bersaing dengan makhluk mortal sepertiku. temanku tidak tahu, awan sebenarnya hampir kalah dariku. di detik itu ia hampir menjatuhkan harga dirinya, menjatuhkan airnya hingga menyentuh tanah duluan. temanku tidak tahu bahwa ----


"saya bersedia."


sepuluh detik kemudian terdengar bunyi gemuruh, disusul bunyi air yang tercurah deras dari langit. "yah, hujan..." celetuk temanku.

awan sudah menangis. airnya menyentuh tanah, membasahi bumi. beban yang ia tahan sepanjang hari berhasil pula ia keluarkan pada akhirnya. tapi awan tak peduli. karena ia menangis sepuluh detik setelah "saya bersedia", tapi aku menangis tiga detik setelah rangkaian kata yang sama. tiga menit kecupan di pipi, tiga detik ucap janji. tiga insan yang emosinya bergejolak, satu pecundang. 



aku pernah berlomba dengan awan. melihat air siapa yang akan menyentuh tanah duluan. tebak siapa yang kalah?

------

*) presipitasi : produk dari kondensasi uap air di atmosfer; terjadi ketika atmosfer menjadi jenuh dan air terkondensasi dan keluar dalam bentuk hujan/ ter-presipitasi.

No comments:

Post a Comment