Sunday, May 25, 2014

Tidak ke mana - mana

Konteks mengubah segalanya. Kalimat berikut "Saya tidak ke mana-mana" dapat berarti dua hal, tergantung konteks apa yang digunakan. "Saya tidak ke mana-mana" ketika diucapkan oleh seorang ibu kepada seorang anaknya yang ketakutan setelah menonton film horor dapat bermakna sangat positif. Sebuah kepastian. Penghiburan. Rasa aman. Di lain hal, ada "Saya tidak ke mana-mana" yang bila diterapkan dalam konteks seorang wartawan pemula yang berusaha sekeras mungkin dan ternyata usahanya tidak sebanding dengan harapan yang dibebankan padanya, maknanya berubah 360 derajat. "Saya tidak ke mana-mana" yang keluar sebagai ucapan nyaris putus asa, karena, setelah nyaris 8 bulan berkecimpung dalam pekerjaan rawan stress ini, dalam 3 minggu terakhir, dia benar-benar tidak ke mana-mana. Dia ke berbagai tempat, memang. Secara fisik. Tapi secara substansi, dia tidak ke mana-mana. Kalau dunia akan dihantam meteor besar dan hanya ada kursi untuk lima orang di roket besar buatan Amerika Serikat, Rusia, dan Cina, dia tidak akan masuk hitungan. Bahkan kalau kursi yang tersisa ada 50 pun, dia akan ditinggal.
Karena dia tidak ke mana-mana. Dia terus melakukan kesalahan dan kebodohan yang sama. Terus-menerus di titik yang sama. Sampai bumi meledak dihantam meteor pun, dia tidak akan ke mana-mana.

Saturday, June 22, 2013

Terima Kasih, Kampus Biru

aku akan selalu mengingat kenangan ini, kampus.
sisa tiga hari lagi, dan kupikir aku bisa lulus dengan rasa bangga. bangga dengan penelitianku, bangga dengan almamaterku. tiga hari lagi saja, tapi lalu aku harus kecewa.

dan sekarang, pragmatisme.

yang penting aku lulus, dan benar-benar bisa melambaikan tangan ke arahmu, gedung biru.
tak ada lagi rasa bangga yang kuharap terbersit ketika akhirnya tanda tangan itu dibubuhkan,
atau ketika aku naik ke atas panggung itu.

terima kasih, kampus.
terima kasih untuk 4 tahun yang berkesan ini.
tapi terutama,
terima kasih untuk hari ini.

21.6.13

Friday, June 14, 2013

tenggat

Kita semua berlari kesetanan, berusaha menang barang satu langkah saja di depan. Tapi sang tenggat lebih cepat, enggan telat.




Thursday, May 16, 2013

Panggung Kehidupan

Hidup sedang melakukan stand up comedy. Tentang aku.

Awalnya kupikir lucu. Tak apa jika Hidup menjadikanku topik favoritnya. Toh, tampaknya banyak yang menikmatinya. Ah, Hidup memang jago melucu. Tapi, kata Hidup, aku lah yang lucu -- ia hanya meminjam diriku sebagai topik. Aku senang-senang saja. Aku berkontribusi menorehkan senyum dan gelak tawa bagi mereka yang lain. Hidupku sangat penuh. Aku puas. Hidup puas. Mereka semua, para penonton itu, puas.

Tapi, lama-lama, kurasa kemampuan Hidup semakin menurun. Ia tidak lucu lagi. Tawa mereka juga tidak terdengar bahagia lagi untukku. Malah, aku sedih mendengar mereka tertawa. Apakah karena aku sudah jenuh mendengar kisah komedi yang sama sekali tidak baru bagiku? Bagaimana tidak, aku menjalani kisah itu. Akulah kisah itu. Tapi, mereka masih tertawa. Satu lawan seribu, kalau tidak seratus ribu, aku kalah dan menelan opiniku. 

Pengeras suara itu berdenging memekakkan telinga, begitu Hidup menginjak panggung reot itu dan mengetes suaranya. Panggung yang dinamakan atas dirinya, berhubung ia telah menjadi semacam bintang komedi: Panggung Kehidupan. Hidup tersenyum dulu menatap semua yang hadir, selalu begitu. Suasana hening yang familiar terasa selagi Hidup berusaha melakukan koneksi dengan para penikmat komedinya. Beberapa sudah menahan senyum, mungkin tak sabar mendengar kisah apa yang akan diangkat Hidup kali ini. Tak lama, Hidup bercerita. Tentang kegagalan seorang anak manusia dalam mengejar cita dan cintanya. Mereka, tentu saja, tertawa. 

Hidup ikut tertawa. Tak hanya suka bercerita lucu, ia juga suka tertawa. Hidup lalu melanjutkan kisah lain, yang sangat kupahami. Kisah mengenai seorang pria yang terlihat kuat, tapi suka menangis di malam hari. 

Apa-apaan ini. Sudah tidak lucu lagi, hey, Hidup. Apa yang lucu dari seorang pria yang suka menangis diam-diam dan selalu gagal ? Aku tak mau tertawa. Bukan tak mau lagi, tapi tak bisa. Bahkan untuk tersenyum demi menghargai Hidup pun aku sudah malas. 

Tapi semua tertawa, seolah memaksaku untuk ikut tertawa. Terkutuklah Solomon E. Asch dan Teori Konformitasnya, aku pun memaksa diri tersenyum. Tahukah kamu, betapa sakitnya tersenyum ketika kamu tidak merasa ingin melakukannya? Sadarkah kamu, betapa jelek senyuman itu ketika kamu tak lagi bahagia? Hidup melihat senyumku yang jelek, baginya itu sebuah materi komedi. Ia menunjukku, semua menatapku, lalu tertawa. Tertawa. Tertawa. Tertawa. Tertawa. Tertawa. Tertawa. Tertawa. Tertawa. Tertawa. Tertawa. Tertawa. Tertawa. Tertawa sampai kata Tertawa itu sendiri kehilangan maknanya.


Sebuah lelucon baru lahir mengenai seorang pria yang sudah gagal, cengeng, jelek pula. 

--

Wednesday, May 15, 2013

Uang

Manusia boleh berencana, bermimpi setinggi menara Babel hingga membuat Tuhan murka. Manusia boleh menggantungkan harapan, menyusun to do list, wish list, bucket list--list apapun yang keterlaluan panjangnya, hingga pada satu titik menjadi kontradiktif dan tidak lagi masuk akal.
Tapi, selalu saja, selalu saja, ada kekuatan lain yang berperan. Kekuatan yang bisa meremas-remas kertas list tersebut dan melemparnya ke keranjang sampah terdekat. "Yippee-kai-yay,"  mungkin ia berdesis, merasa seperti John McClane, sedetik sebelum menuntaskan sebuah misi penting. Misi untuk mematahkan rencana, angan, harapan, apapun itu yang telah dipikirkan mentah maupun matang oleh si manusia.


Bukan, astaga, bukan Tuhan,




uang.


Thursday, May 9, 2013

Satu tahun


Dua bulan adalah waktu yang terlampau singkat untuk menentukan cocok tidaknya saya dengan profesi ini. Dua bulan menghasilkan prasangka dan penilaian yang keterlaluan mentah akan sesuatu yang memang sengaja tidak saya perlihatkan sepenuhnya. 

Satu tahun adalah waktu yang cukup, saya pikir, untuk berkontemplasi dan memproyeksikan masa depan saya. Satu tahun cukup lama, menurut saya, untuk belajar lebih banyak dan mengubah mental saya yang terjajah. Karena, saya akui, saya sebenarnya gelisah. Saya sebenarnya peduli. Tapi saya yang sekarang masih malu. Rasa malu yang merupakan sisa-sisa kepribadian asli saya yang introvert, yang ketika kecil sulit mencari teman. Saya perlu pecutan, saya rasa. Karena kegelisahan itu ada, mengusik, tapi ditahan kepribadian saya yang masih tertutup dan terkadang ragu seperti Thomas, murid Yesus itu. 

Satu tahun. Satu tahun untuk membuang rasa malu itu. Satu tahun untuk membunuh mental terjajah itu. Satu tahun deadline kamu. Sampai ketemu lagi dengan kamu yang baru, satu tahun lagi.

Sunday, April 28, 2013

Aku mau jadi Akira Kurosawa

Semalam aku bermimpi sampai empat babak. Empat kisah dalam satu kali tidur. Umumnya, pada hari-hari normal, mimpiku hanya satu sampai dua kisah. Tapi kemarin aku terlalu lelah, mungkin. Ada pengaruh paracetamol yang menyebabkan kantuk juga, pastinya. Intinya aku tertidur sampai belasan jam. Aku lupa menghitung berapa jam sebenarnya aku tertidur, dan sekarang pun aku lelah dan malas mengingat-ingat dan menghitungnya.

Aku menyesal tidak menyimpan catatan mengenai mimpi-mimpiku. Terutama karena terkadang aku merasa mimpi-mimpiku suka luar biasa, kalau difilmkan, bisa jadi percampuran genre science fiction, horror, thriller, rom-com, action. Siapa tahu, di kemudian hari, aku bisa seperti Akira Kurosawa, menulis naskah film berdasarkan mimpi-mimpiku.

Malam ini, sebelum tidur, aku menenggak empat gelas air putih sampai kembung. Harapanku, aku bisa terbangun di malam hari untuk ke toilet. Dari jurnal sains yang aku temukan di internet, orang yang sering terbangun di malam hari, lebih mudah mengingat mimpinya.

Aku bercerita ke temanku tentang keinginanku mengingat mimpi. Aku bertanya, apa dia pernah seperti itu. Dia tertawa, menjawab tidak, lalu menuduhku ingin lari dari kenyataan. Kau memang suka aneh, demikian ujarnya. Terkadang aku bingung, apa aku yang aneh, atau aku hanya belum menemukan teman yang sepemikiran saja.

Aku menjawab, tidak begitu. Mimpi-mimpiku tidak semuanya indah. Suatu hari aku bermimpi tentang neraka. Kau pikir aku mau terus mengingat-ingat neraka karena aku ingin lari ke neraka? Aku hanya merasa mimpi-mimpiku bisa jadi inspirasi kisah yang seru kalau saja aku bisa mengingatnya. Suatu novel, atau kompilasi antalogi cerita pendek yang absurd. Dia hanya mengangkat alis dan manggut-manggut. Entah apa maksudnya.

Malam ini, aku tidak bisa tidur. Seperti anak bocah yang begadang semalaman, terlalu semangat karena esok harinya mau pergi bertamasya ke pantai, aku terlalu menantikan mimpi, yang tidak kunjung datang. Malam ini, alih-alih bermimpi, aku ada di depan laptop, menulis tentang mimpi. Mimpi-mimpi yang tidak bisa kuingat, mimpi-mimpi yang tidak kumiliki.