Sunday, May 25, 2014

Tidak ke mana - mana

Konteks mengubah segalanya. Kalimat berikut "Saya tidak ke mana-mana" dapat berarti dua hal, tergantung konteks apa yang digunakan. "Saya tidak ke mana-mana" ketika diucapkan oleh seorang ibu kepada seorang anaknya yang ketakutan setelah menonton film horor dapat bermakna sangat positif. Sebuah kepastian. Penghiburan. Rasa aman. Di lain hal, ada "Saya tidak ke mana-mana" yang bila diterapkan dalam konteks seorang wartawan pemula yang berusaha sekeras mungkin dan ternyata usahanya tidak sebanding dengan harapan yang dibebankan padanya, maknanya berubah 360 derajat. "Saya tidak ke mana-mana" yang keluar sebagai ucapan nyaris putus asa, karena, setelah nyaris 8 bulan berkecimpung dalam pekerjaan rawan stress ini, dalam 3 minggu terakhir, dia benar-benar tidak ke mana-mana. Dia ke berbagai tempat, memang. Secara fisik. Tapi secara substansi, dia tidak ke mana-mana. Kalau dunia akan dihantam meteor besar dan hanya ada kursi untuk lima orang di roket besar buatan Amerika Serikat, Rusia, dan Cina, dia tidak akan masuk hitungan. Bahkan kalau kursi yang tersisa ada 50 pun, dia akan ditinggal.
Karena dia tidak ke mana-mana. Dia terus melakukan kesalahan dan kebodohan yang sama. Terus-menerus di titik yang sama. Sampai bumi meledak dihantam meteor pun, dia tidak akan ke mana-mana.

Friday, June 14, 2013

tenggat

Kita semua berlari kesetanan, berusaha menang barang satu langkah saja di depan. Tapi sang tenggat lebih cepat, enggan telat.




Wednesday, May 15, 2013

Uang

Manusia boleh berencana, bermimpi setinggi menara Babel hingga membuat Tuhan murka. Manusia boleh menggantungkan harapan, menyusun to do list, wish list, bucket list--list apapun yang keterlaluan panjangnya, hingga pada satu titik menjadi kontradiktif dan tidak lagi masuk akal.
Tapi, selalu saja, selalu saja, ada kekuatan lain yang berperan. Kekuatan yang bisa meremas-remas kertas list tersebut dan melemparnya ke keranjang sampah terdekat. "Yippee-kai-yay,"  mungkin ia berdesis, merasa seperti John McClane, sedetik sebelum menuntaskan sebuah misi penting. Misi untuk mematahkan rencana, angan, harapan, apapun itu yang telah dipikirkan mentah maupun matang oleh si manusia.


Bukan, astaga, bukan Tuhan,




uang.


Thursday, May 9, 2013

Satu tahun


Dua bulan adalah waktu yang terlampau singkat untuk menentukan cocok tidaknya saya dengan profesi ini. Dua bulan menghasilkan prasangka dan penilaian yang keterlaluan mentah akan sesuatu yang memang sengaja tidak saya perlihatkan sepenuhnya. 

Satu tahun adalah waktu yang cukup, saya pikir, untuk berkontemplasi dan memproyeksikan masa depan saya. Satu tahun cukup lama, menurut saya, untuk belajar lebih banyak dan mengubah mental saya yang terjajah. Karena, saya akui, saya sebenarnya gelisah. Saya sebenarnya peduli. Tapi saya yang sekarang masih malu. Rasa malu yang merupakan sisa-sisa kepribadian asli saya yang introvert, yang ketika kecil sulit mencari teman. Saya perlu pecutan, saya rasa. Karena kegelisahan itu ada, mengusik, tapi ditahan kepribadian saya yang masih tertutup dan terkadang ragu seperti Thomas, murid Yesus itu. 

Satu tahun. Satu tahun untuk membuang rasa malu itu. Satu tahun untuk membunuh mental terjajah itu. Satu tahun deadline kamu. Sampai ketemu lagi dengan kamu yang baru, satu tahun lagi.

Sunday, October 21, 2012

jatuh dalam dosa distraksi
ini saat-saat tepat untuk mengutuki diri sendiri, sebenarnya. ketika seharusnya mata saya menatap halaman demi halaman itu,ketika seharusnya tangan saya meraih tumpukan buku itu dan membalik-balik halamannya, berusaha menjejalkan kontennya sebanyak mungkin ke dalam kepala. iya. ketika seharusnya saya tidak di sini, menulis karena alasan sederhana saja: udah lama gak nulis kayak gini
malam-malam seperti ini memang paling tepat buat tiba-tiba kehilangan fokus. padahal tadi sudah sangat tekun membaca dan mengetik, mengetik lalu membaca, tapi tiba-tiba teringat si adik yang lagi sendirian di rumah dan belum saya kontak seharian. mau mencoba sms tapi ternyata pulsa habis. akhirnya mau tidak mau buka tab chrome. terdiam sebentar, berpikir antara dua pilihan, bertanya kabar lewat twitter atau facebook. akhirnya diputuskan facebook, karena twitter lebih potensial mendorong naluri alamiah saya sebagai manusia: kepo. akhirnya saya mengirim pesan ke inbox facebook si adik. bertanya kabar, meminta maaf tidak menanyakan kabar sejak pagi tadi, meminta maaf tidak mengangkat teleponnya tadi pagi karena saya masih tertidur pulas, dan bertanya kabar lagi. 
saya sudah punya perasaan kalau saya pasti akan nyasar dan tidak kembali lagi ke proses membaca-mengetik yang tadi saya lakukan dengan sangat tekunnya. ternyata benar, saya malah kepo. ada teman yang baru berganti profile picture, ada teman yang baru putus, ada juga yang baru jadian. ada teman yang mengirim game request (yang entah sudah untuk keberapa kalinya hari ini). setengah jam saya habiskan dengan dorongan rasa penasaran.
pada akhirnya saya malah terdampar di tempat yang sejak awal sudah saya berusaha jauhi: twitter. tempat terlarang yang layaknya buah terlarang, memiliki konsekuensi tertentu jika didekati. dan benar, pada akhirnya ada setengah jam lagi yang saya habiskan untuk membalas-balas mention dan membaca ocehan orang lain. layaknya buah terlarang, ketika saya kembali ke kegiatan membaca-mengetik saya tadi, saya diusir. enyah, keluar. begitu katanya. saya pun tidak bisa lagi membaca dan mengetik selancar dan setekun tadi. halaman-halaman itu mengusir saya. 
badan mulai pegal karena duduk tepat di bawah hawa dingin AC, akhirnya saya merenggangkan badan, menguap sebentar, sendawa dan memaki kondisi. tiba-tiba terdengar suara aneh dari luar kamar dan tas yang saya taruh di atas koper tiba-tiba terjatuh. bisa saja karena angin AC. bisa saja karena posisinya dari awal tidak mendukung. tapi kesunyian, suara aneh, tas yang terjatuh tadi memperkuat keyakinan saya bahwa manusia tidak hidup sendiri dan ada dimensi lain di luar sana. akhirnya saya terdorong untuk membuka winamp, memutar koleksi lagu-lagu yang sejujurnya sudah lama tidak saya update. playlist yang itu lagi, yang itu lagi. tidak apa-apa, selama saya terdistraksi dari kesunyian dan suara-suara aneh. tapi satu hal terselip dari kesadaran saya, bahwa usaha saya mendistraksi diri dari rasa takut ternyata berakhir menjadi distraksi lain. saya jadi semakin diusir jauh dari halaman-halaman itu, karena tiba-tiba saya lebih tertarik untuk bernyanyi dengan pelan mengikuti alunan lagu yang dengan kencang menembus telinga saya. 
saya sadar, tidak ada salahnya istirahat sejenak. toh saya sudah diusir dan kehilangan fokus saya. saya tiba-tiba teringat tempat ini. sudah lama sekali saya tidak berkunjung, saya tadi bahkan hampir lupa alamatnya. theodoraagnes atau theodora.agnes. dengan titik atau tanpa. tapi saya berhasil ingat, dan di sinilah saya sekarang. memang mengetik dan membaca lagi, tapi bukan halaman-halaman tadi yang mengusir saya begitu saya tergoda dan jatuh dalam dosa distraksi. halaman ini cuma satu, ia menerima saya dengan lapang, semacam rindu. begitu pula saya.

---

Sunday, April 22, 2012

Saturday, April 14, 2012

menuju presipitasi


aku pernah berlomba dengan awan. melihat air siapa yang akan menyentuh tanah duluan. 

perlombaan ini tidak memberi penghargaan dan prestise bagi yang terlebih dahulu menyelesaikan, tapi yang paling terakhir meninggalkan. air siapa yang akan menyentuh tanah duluan: air hujan? atau air dari mataku? yang menang adalah yang terakhir menyentuh tanah. yang mampu bertahan menahan beban. 

awan telah menahan beban itu lama, mungkin lebih lama sebelum aku. sepanjang hari memang sudah panas. panas memancing evaporasi, memberi beban kondensasi pada awan. beban tersebut semakin berat bagi awan, dan awan mulai terlihat kelam. kelabu. ia tahu, sebentar lagi airnya akan jatuh. tapi ia masih menunggu. menunggu aku, saingannya, yang nun jauh di bawah sana sedang menahan beban pula.

tapi aku lebih lemah dari awan. tak seperti awan yang telah menahan bebannya sepanjang hari akibat panasnya lecutan matahari atas bumi, aku baru mendapat bebanku tiga menit yang lalu. tiga menit yang sudah cukup membuatku mendeklarasikan tantangan pada awan, adu ketahanan. tiga menit yang mengandung kecupan di pipi, yang mau tidak mau harus aku saksikan secara langsung, bagaikan menonton layar tancap. kecupan itu sekilas, hanya lima detik. sisanya adalah seratus tujuh puluh lima detik yang mana aku termenung, sementara beban semakin berat menguap di dadaku, memaksa air di mataku untuk menyentuh tanah. 

waktu berlalu, dan baik aku maupun awan masih bertahan. masing-masing dengan beban kelabu yang terasa semakin berat. awan, dengan beban yang ia tahan sepanjang hari -- dan aku, dengan beban yang kutahan selama tiga menit terakhir. seharusnya awan mendapat nilai plus, karena menahan sebegitu lamanya. karena menunggu sampai tanggal hendak berganti. sementara aku yang hanya bertahan tiga menit, dengan sombongnya menantang awan. 

tapi ini perlombaan yang ditentukan oleh air siapa yang jatuh paling terakhir. bukan beban siapa yang paling lama ditahan. titik. maka aku dan awan pun tetap bertahan, meskipun awan mulai geram. tak tahan menahan beban, ia pun menggerutu. aku bisa mendengar gerutunya, bumi bisa mendengar gerutunya. gerutu yang membuat temanku menutup telinga dan memekik kecil. temanku tidak tahu, awan sedang kesal karena harus bersaing dengan makhluk mortal sepertiku. temanku tidak tahu, awan sebenarnya hampir kalah dariku. di detik itu ia hampir menjatuhkan harga dirinya, menjatuhkan airnya hingga menyentuh tanah duluan. temanku tidak tahu bahwa ----


"saya bersedia."


sepuluh detik kemudian terdengar bunyi gemuruh, disusul bunyi air yang tercurah deras dari langit. "yah, hujan..." celetuk temanku.

awan sudah menangis. airnya menyentuh tanah, membasahi bumi. beban yang ia tahan sepanjang hari berhasil pula ia keluarkan pada akhirnya. tapi awan tak peduli. karena ia menangis sepuluh detik setelah "saya bersedia", tapi aku menangis tiga detik setelah rangkaian kata yang sama. tiga menit kecupan di pipi, tiga detik ucap janji. tiga insan yang emosinya bergejolak, satu pecundang. 



aku pernah berlomba dengan awan. melihat air siapa yang akan menyentuh tanah duluan. tebak siapa yang kalah?

------

*) presipitasi : produk dari kondensasi uap air di atmosfer; terjadi ketika atmosfer menjadi jenuh dan air terkondensasi dan keluar dalam bentuk hujan/ ter-presipitasi.